Selasa, 21 Juli 2015

Analisis (Mengupas) Novel Paper Towns Karya John Green




                       
 Semenjak pertanyaan terakhir beberapa hari yang lalu, blog ini menjadi sepi karena ane hanya online setiap dini hari dan emang lagi gak ada yang nanya-nanya sih ke gmail ane. Yaudah deh daripada bosan mending ane kasih review dan analisis dulu nih gan tentang salah satu buku dari John Green yang cukup terkenal dan bentar lagi tayang versi filmnya. Paper Towns. Begitulah judul asli dari buku ini yang berarti Kota Kertas.

            So, bagi yang udah baca buku nya John Green yang Paper Towns itu dan belum mengerti maksud dari ceritanya, terutama metaforanya yang sangat memusingkan ane akan mencoba sedikit membantu kalian semua. Disini ane akan kasih pendapat juga mengenai kesan ane terhadap buku ini. Jadi, kalian tenang saja. Setelah membaca artikel ini dijamin kalian akan makin ga ngerti isi cerita nya… HAHAHA


            Well.. let’s start. Buku ini dimulai dari cuplikan kejadian yang akan terjadi di novel ini -seperti sebuah bocoran tentang apa yang akan terjadi di buku ini- yaitu di pagi hari setelah Q dan Margo berhasil menyelesaikan sebelas daftar panjang rencana pembalasan Margo -yang tujuan utamanya adalah memberikan Jase pelajaran. Bagi yang sudah baca buku ini.. well inilah salah satu petunjuk yang John Green berikan! John ingin agar kita bisa terus kembali disaat peristiwa seru di malam hari bersama Q dan Margo.

            Kita melompat ke malam itu. Melompat ke bagian tersulit untuk dipahami yaitu ketika Q dan Margo berada di puncak SunTrust Building. Dialog Q dan Margo tampaknya penuh dengan metafora. Q merasa jika Orlando dilihat dari kejauhan maka kota itu tampak mengesankan. Tempat-tempat yang biasa dikunjunginya, tempat-tempat yang dikunjunginya selama malam itu, kuldesak itu; semuanya ada di sana dalam satu atau beberapa lanskap dari tiap-tiap jendela. 

            Margo - dengan pengalamannya- mengatakan semuanya jelek jika dilihat dari dekat; termasuk dirinya di depan Jase. Q menepis. Margo mengalihkan pembicaraan. Lalu Margo mulai menjelaskan betapa palsunya kota itu. Kota yang menurutnya sekeras kertas dengan orang-orang di dalamnya yang menurutnya melakukan apa yang alam perintahkan; mendiami rumah, membakar masa depan, menenggak bir dsb. Tidak ada yang penting; semuanya bukan keinginan terdalam kitaSekolah, kuliah, punya anak, menyekolahkan mereka, dan mati; bukankah itu seolah-olah seperti takdir setiap orang? Carpe Diem, menurut Margo, itulah hal yang terpenting. Sehingga jika seandainya kita adalah Q dan sedang tersedak di Panti Jompo untuk terakhir kalinya maka kita akan sangat bersyukur bahwa setelah melakukan hal yang ‘tidak penting’ selama hidup kita setidaknya kita pernah membobol Sea World bersama Margo Roth Spiegelman.


Di awal cerita , Margo berpikir bahwa Q adalah datar—"two dimensions as a character on the page and two different, but still flat, dimensions as a person" (3.22.93) (ane ngutip kalimat yang bukan di novel terjemahan nya gan. Biar keliatan pinter …hahahaha). Tapi di akhir novel ini kita semua tahu bahwa akhirnya Margo menyadari bahwa dialah seseorang yang bisa ‘dilipat’ tersebut.


Apa maksud nya ? Dia pikir Q tahu siapa dirinya sendiri. Seorang laki-laki tidak popular dan penakut yang bahagia di kota kecil nya, berfokus pada masa depan seperti kuliah dsb. Sedangkan dia? Dia ingin orang-orang melihat dia sebagai seseorang yang dia ingin orang lihat – sebagai seseorang yang popular, pacaran dengan seorang laki-laki berotot, kaya dan tampan, seseorang yang keren karena melakukan hal-hal yang penuh petualangan, dsb. Dia tidak menunjukan dirinya yang sebenarnya; menyukai lagu-lagu folk, buku, misteri dan puisi. Dia melipat dirinya terus menerus agar bisa menyesuaikan diri di dalam berbagai situasi di sekitarnya, dan dia –setelah tahu Jase selingkuh dari nya- lelah dengan hal tersebut. Pada akhirnya, dia mencari jati dirinya; pergi ke kota kertas (Agloe) dan tak akan pernah kembali.


Bagian pertama telah selesai kita bahas (ane padahal bahas sedikit doing, kan?..Hahaha..). But, wait.. apa yang selesai? Bagian pertama yang John Green beri judul The Strings ini sepertinya tidak membahas apa-apa mengenai senar; hanya beberapa kali kata ‘senar’ muncul di cerita. Tapi apa maksud Margo ketika dia berkata bahwa semua senar dalam diri Mr. Joyner -yang ditemukan tewas di taman perumahan mereka- telah putus? Apa maksudnya malam tersebut merupakan senar terakhirnya dan senar itu payah?


          Senar dalam buku ini maksudnya adalah cara seseorang mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan yang sedang terjadi pada dirinya. Seperti perasaan emosional. Sulit dimengerti.  Seperti contohnya jika kita merasa kaki kita pegal, sangat mudah menunjukkan kepada seseorang bahwa kaki kita kesemutan. Kita tinggal menunjuk bagian mana yang kesemutan atau memberi tahu rasa sakitnya, sangat mudah untuk dimengerti. Maksud ane, siapa sih yang ga pernah kesemutan? Berbeda dengan yang sifatnya emosional, seperti sakit hati. Semua orang memang pernah sakit hati tapi bagian mana yang sakit? Dengan apakah kita menunjukan bahwa kita sakit hati? Percayalah, dengan menangis pun orang takkan mengerti kenapa kita sakit hati. Disinilah kita perlu kiasan! Kita butuh sesuatu kalimat yang bisa mengungkapkan dengan mudah rasa yang tidak bisa diungkapkan tersebut.

       Tema pertama dari tiga symbol dari buku ini adalah bahwa dari "senar", yang bersifat internal psikologi setiap orang. Senar adalah apa yang menjaga setiap orang tetap sadar dan didasarkan pada waktu tertentu dan tempat. Ketika salah satu senar putus, dia secara bertahap terhapus dari keadaan normal. Metafora ini pertama membuat entrinya ketika Margo dan Quentin menghadapi mayat Robert Joyner. Hal ini mengatakan bahwa Joyner bunuh diri karena ia tidak bisa lagi menangani hidupnya setelah perceraian dan depresi. Tapi metafora itu paling berdampak pada Margo, yang senarnya mungkin telah mulai putus pada hari itu. Margo lah yang menarik metafora senar sebagai cermin untuk dirinya. Tekanan yang dia ditempatkan pada dirinya sendiri untuk menjadi dingin dan misterius terasing dia dari keluarga dan teman-temannya.           

         Mari  kita persingkat cerita ke bagian lain yang menurut ane banyak yang tidak mengerti. Bagian kedua, rerumputan. Inti nya adalah kejarlah apa yang kita mau di dunia ini, meski harus mempertaruhkan apa pun. Ini terbukti dari sifat ‘egois’ nya Margo yang memilih untuk meninggalkan semuanya karena dia tidak mau tetap berada di kota yang ia benci. Juga Ben yang mengejar Lacey terus menerus sampai akhirnya mereka berpacaran. Mencabut rumput sampai ke akarnya, akan terasa menyenangkan untuk ‘mengejar’ apa yang kita mau jika hidup kita sudah berakar; seolah-olah kita sudah tidak bisa ‘pergi’ dari hidup itu. Dalam Bagian kedua dari buku ini, Margo benar-benar menghilang dan Quentin bertanya-tanya apakah ia akan melihatnya lagi. Namun, Margo telah meninggalkan dia serangkaian petunjuk tentang keberadaannya.

         Bagian kedua dihabiskan bergulat bersama petunjuk Margo. Quentin mengejar Margo dengan bantuan teman-temannya, tetapi sementara itu, SMA berakhir. Quentin mengikuti serangkaian petunjuk yang salah, yang membuatnya semakin reflektif dan mendorongnya untuk secara bertahap menerima bahwa dia telah membuat Margo menjadi non-orang ajaib, "gadis kertas" dan bahwa dia mencintai seseorang yang mungkin tidak ada. Dia akhirnya memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk mencari Margo adalah dengan memahami siapa dia. Sepanjang bagian kedua, Quentin bergulat dengan penggunaan Margo dari frase "kota kertas" di petunjuk nya. Akhirnya ia tahu bahwa kota kertas adalah kota palsu di peta yang kartografer pernah digunakan untuk mendeteksi peniru. Margo telah pergi ke kota kertas Algoe, New York.



Bagian ketiga dan terakhir adalah wadah. Tema terakhir ini adalah memahami alasan dan konsep seseorang lebih penting daripada memahami sesorang sebagaimana yang kita percayai dan kita ingini . "Adalah hal yang berbahaya untuk dipercaya bahwa seseorang lebih dari seseorang." Q selalu berharap dalam pencarian untuk menemukan Margo, sementara teman-temannya memang memahami dia tetapi tidak peduli. Margo merasa kosong dan melarikan diri karena dia tidak ingin menjadi "seorang gadis kertas di sebuah kota kertas".

Sangat disarankan membaca bagian wadah dari terjemahan aslinya. Karena novel terjemahan nya yang saat ini kurang menyentuh pemahaman kita. Seperti ketika percakapan mereka di bagian ini membahas tentang cara mereka memandang satu sama lain. 

        Inilah bagian yang paling sulit untuk dimengerti; MARGO SEBENARNYA JUGA MENCINTAI Q! Bukan karena dia setuju untuk berciuman melainkan karena Q nyata. Margo melihat bahwa malam itu ketika mereka melaksanakan serangkaian balas dendam Q menunjukkan sifat dan karakter aslinya. Dia bukan "Bocah Kertas" seperti yang selama ini dia kira. Dia bahkan menggambarkan Q dalam cerita misterinya sebagai seseorang yang pemberani dan heroic dan di dalam ceritanya dia jatuh cinta padanya. Namun, mereka berdua menyadari dengan menyesal bahwa cinta mereka didasarkan pada kepalsuan, dengan menjadi "bocah kertas" dan "gadis kertas." Margo pergi untuk melepaskan semua orang dari efek palsu, kepribadian publiknya. Quentin, bagaimanapun, tidak menyerah pada Margo. Mereka mengakui kasih sayang romantis mereka satu sama lain tetapi menyadari bahwa nilai-nilai mereka mau tidak mau memimpin mereka untuk berpisah dalam masa depan.
Setelah mereka berciuman, Q memberi kita baris terakhir dari novel:

       “Yes, I can see her almost perfectly in this cracked darkness.” (3.22.178)

        “Ya, aku bisa melihat dia hampir sempurna dalam kegelapan retak ini.”

Menatap ke arahnya mengingatkan kita ketika mereka saling menatap dalam kegelapan ketika mereka masih kanak-kanak. Dan baris terakhir membuat kita ingat baris lain dari sebelumnya dalam buku: Q mengatakan, "Keindahan Margo adalah semacam kapal kesempurnaan yang tersegel-uncracked dan uncrackable" (1.5.37). Tapi pada akhir novel, ia melihat bahwa ia tidak sempurna. Dia tidak uncracked dan uncrackable, dia dalam "kegelapan yang retak" (3.22.178). Dia bahkan mungkin adalah si kegelapan yang retak.

        Tapi ini tidak membuat Q takut. Ia tampaknya menerima dia apa adanya, bukannya mencoba untuk membuatnya menjadi sesuatu yang bukan diri Margo. Jadi sementara mereka mungkin berpisah, Q mungkin juga akhirnya menjadi teman sejati pertamanya.

          Moral dari cerita di buku ini adalah tidak ada yang benar-benar tahu siapa pun. Semua orang terhubung melalui rerumputan atau senar tak terlihat, tapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa pun. Seseorang (yang kita pikir kita kenal) bisa saja memiliki banyak rahasia gelap atau menjadi pembunuh kapak. Anda bisa jatuh cinta dengan seseorang dan kemudian jatuh cinta lagi ketika Anda benar-benar tahu siapa orang itu. Hidup ini sepenuhnya terlalu banyak tentang masa depan dan tidak cukup tentang sekarang. Akhirnya, ketika kita sedang di tempat tidur dan sekarat , Anda pasti akan bersyukur bahwa Anda carped setidaknya satu diem. Jadi lakukanlah segera.




Well menurut ane pribadi setelah capek membaca buku yang menurut ane punya alur membosankan (terbukti ane ga sabar dan bolak-balik ke halaman belakang buku untuk melihat apakah Margo benar-benar ditemukan) dan capek juga ngetik review nya karena banyak yang belum ngerti. Hanya dialog antar Q dan dua teman-temannya yang menyelamatkan buku ini karena mereka sangat loyal dan lucu. Misteri menghilangnya Margo mungkin membuat kita penasaran tetapi petunjuk-petunjuk yang diberikan membuat si pembaca meringis karena mereka tidak mengerti petunjuk yang diberikan Margo (sapa sih anak jaman sekarang yang baca puisinya Whittman?) dan lama-lama mereka bosan karena mereka tidak mengerti. Si Om John Green menulis buku ini khusus remaja dengan gaya filosofis yang menurut ane sulit diterima dikalangan remaja yang kebanyakan cuman mikirin sesuatu yang enak-enak aja. Remaja sekarang idealismenya belum terkonsep; dan masih mudah dipengaruhi oleh berbagai macam budaya dan sosial.



Cara pandang Q yang bersifat lebih “normal” dibanding Margo menjadi nilai plus dari buku ini. Om John memang mengaku sengaja menjadikan Q sebagai sudut pandang orang pertama agar kita bisa memahami gagasan Q (yang salah) mengenai Margo. Q hanya mencintai gagasan dirinya sendiri mengenai Margo, bukan diri Margo seutuhnya (karena memang Q tidak pernah benar-benar mengenal Margo). Idealisme Margo tidaklah salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Kita yang terlahir di dunia ini memiliki peranan masing-masing. Ada yang menjadi anak seorang artis misalnya, yang membuatnya menjadi seorang artis (dan tidak kuliah; yang merupakan sesuatu yang orang biasa tuju). Ada juga yang menjadi seseorang yang kelaparan di Afrika sana. Bagaimana kita mengerjakan peran kita dan berdampak bagi sesama; itulah yang terpenting.



Gitu aja dari ane gan… ngantuk ahh bobo dulu

1 komentar:

  1. Slots Queen Review - Casino Queen JP
    Find out how to use Slots Queen, クイーンカジノ one of the best vua nhà cái online slot games of all time. Play online slots link 12bet from the best provider  Rating: 4 · ‎Review by Canadian Casino

    BalasHapus